Anak Magang

Saat ini ada anak magang yang diperbantukan ke seksi saya. Luar biasa rajin bekerja, tetapi itu bukan hal yang aneh karena saat magang dulupun saya juga melakukan hal sama (baca: selalu lapar dan haus pekerjaan).

Pada sore hari, satu jam sebelum pulang, seorang anak magang yang lain datang ke ruangan saya. “Ada pekerjaan yang bisa saya bantu mas?” ucapnya, wajahnya terlihat tulus, serius, dan polos. Memandang wajahnya saya seperti melihat bayangan wajah saya sendiri berapa ratus tahun yang lalu.

Ketika saya ceritakan hal ini teman seruangan menimpali, dahulu saat magang produktifitas kerjanya juga luar biasa. Cukup sulit, untuk tidak dikatakan mustahil, dilakukan saat ini setelah menjadi pegawai.

Orang memang menjadi tua dan lebih lemah seiring bertambahnya waktu, tapi untuk kasus ini sepertinya bukan karena umur. Pada twenty six my age dan status pegawai (dengan gaji full) seharusnya produktifitas anak magang tidak ada apa-apanya. Aih, sayangnya ‘seharusnya’ seringnya tidak sama dengan realita.

Advertisements

PNS Main Pingpong

Saya kira ada banyak PNS yang suka main pingpong, olahraga pingpong maksudnya. Di tempat saya saja ada dua buah meja pingpong meski akhir-akhir ini jarang dipakai. Waktu mengurusi berkas di sebuah kantor pemerintah saya juga melihat pegawai disana bermain pingpong.

Pingpong. Bola kecil yang pasrah dipukul kesana kemari, kadang-kadang diplintir, sering dipukul keras-keras, smash namanya.

Ada banyak teman kerja saya yang jago main pingpong, umumnya yang sudah berusia tua. Teknik mempingpong bolanya ada banyak, sehingga sangat sulit menebak arah bolanya. Tetapi pada umumnya tua-muda suka main pingpong.

PNS suka main pingpong, bolehkan?

 

Terima Kasih Bos

Akhir-akhir ini bos sering dapat tugas ke luar kota. Saya jelas senang, kawan-kawan yang lain pun sama. Sampai-sampai ibu pemilik kantin heran “Ini ada apa to mas? kok suasananya kayak akhir pekan?”

Saat tidak ada bos semuanya menjadi santai. Bekerja santai, istirahat santai, masuk kantor pun santai.

Tapi di akhir pekan yang sesungguhnya saya merasa ada yang kurang. Sebuah pertanyaan tiba-tiba terlontar dari hati kecil. Besok sudah libur, selama bos tidak ada di kantor apa saja yang telah saya kerjakan?Jawaban yang muncul adalah perasaan bersalah.

Terima kasih bos, bagaimanapun juga keberadaanmu membuat saya bekerja lebih maksimal. Berkat bos saya tahu bagaimana cara menghargai gaji yang negara bayarkan. Lalu saya rindu hari senin.. jiaah

 

 

Wawancara Sore #PakSatpam

Selepas asar saya iseng-iseng mewawancarai satpam di kantor.

Satpam Kantor : Spm

Saya : Sa

tanpa ditanya, satpam udah nyerocos duluan

Spm : kemarin bos nglembur sampe jam 1 malam, saya ikut nungguin

Sa : bagus dong pak?

Spm : enggak bagus itu, kerja dipajak ga boleh gitu

Sa : loh?

Spm : kerja dipajak harus santai, kerjaan kan banyak, kalo dilemburin malah stres

Sa : kalau pajak dulu sama sekarang enakan mana pak?

Spm : ya jelas enakan dulu, dulu nyari duit gampang

Sa : ohh

Spm : iya

Spm : kalo dulu orang pajak pasti kaya2x, cuma si ‘A’ sama si ‘B’ itu dulu enggak berani, makanya ga kaya sekarang

Sa : gitu ya pak

Pak Satpam terlihat menerawangkan pandangannya. Saya kabur

Membawa Gitar Ke Kantor

Tadi sore saya berpikir untuk membawa gitar ke kantor. Bukan karena ada pentas atau acara nyanyi-nyanyi (toh saya juga belum bisa ngiringin orang nyanyi) tapi karena ingin memainkannya saat jenuh.

Iya rumah saya dekat kantor, tetapi akhir-akhir ini pekerjaan banyak sekali. Untuk beranjak dari kursi kerja malas rasanya. Kalau bisa hal lain dikerjakan tanpa beranjak, termasuk main gitar untuk menghilangkan bosan, biar cepat kembali ke komputer dan bekerja.

Tapi kalau itu saya lakukan artinya saya tidak bisa memperlakukan waktu dengan baik.

Jam kantor, jam istirahat, dan jam pulang harus dihargai selagi bisa. Selama bisa istirahat di rumah kenapa mesti tinggal di kantor? selama bisa pulang tepat waktu kenapa lembur? selama bisa kenapa tidak, kan? 😀